Review Pertandingan : Prancis vs Inggris

Pertandingan pertama grup D Euro 2012 dibuka dengan pertandingan antara Prancis vs Inggris. Prancis memainkan pola 4-5-1/4-2-3-1 dengan trio Ribery, Malouda & Nasri sebagai gelandang serang. Alou Diarra mengisi posisi Yann M’Villa berperan sebagai gelandang bertahan, sedangkan Yohan Cabaye lebih difungsikan sebagai pemain box-to-box. Inggris memainkan variasi pola klasik 4-4-2 dengan Ashley Young sedikit ke turun ke tengah menjadi 4-4-1-1.

Seperti dalam dua ujicoba sebelum Euro 2012, pelatih Inggris mendasarkan permainannya pada pertahanan yang rapat dan disiplin. Empat pemain di lini tengah inggris Oxlade-Chamberlain, Gerard, Scott Parker & James Milner adalah pemain pekerja keras. Empat pemain tengah ini menjadikan pertahanan Inggris solid. Dalam kondisi tertekan, empat pemain ini akan membentuk kuartet di depan kotak penalti sedangkan 4 pemain bertahan mengisi jantung pertahanan. Strategi yang cukup jitu dari pelatih Roy Hodgson mengingat kualitas gelandang serang yang dimiliki Prancis.

Dalam pertandingan ini, Prancis lebih banyak mengambil inisiatif serangan. Hal ini terlihat dari penguasaan bola selama pertandingan. Whoscored.com mencatat Prancis unggul dalam penguasaan bola 65% berbanding 35%. Statistik ini menunujukkan bagaimana Prancis berusaha mengambil inisiatif serangan sementara Inggris lebih banyak bertahan. Sepanjang babak pertama Inggris bermain sangat disiplin di area pertahanan, para gelandang Inggris mengambil posisi didepan kotak penalti membentuk dua baris bank of four bersama empat pemain bertahan Inggris.

Pola permainan Inggris yang membentuk dua lapis pertahanan memaksa Prancis melakukan shooting dari luar kotak penalti. Materi pemain tengah yang dimiliki Prancis memungkinkan hal ini. Tercatat dari 21 tembakan kearah gawang yang dilakukan Prancis 71 % dilakukan dari luar kotak penalti. Sayangnya, Joe Hart selalu berada di posisi yang tepat dan Inggris bertahan dengan disiplin. Satu gol yang dicetak Prancis di pertandingan ini merupakan hasil shooting dari luar kotak penalti. Dalam kondisi lawan memainkan strategi ‘parkir bus’ seperti Inggris tembakan jarak jauh seringkali menjadi alternatif memecah kebuntuan.

Dalam pertandingan ini, saya lihat Florent Malouda menjadi titik lemah Prancis. Pemain ini gagal menunjukkan permainan maksimal. Malouda tidak mampu mengimbangi permainan kreatif dan cepat dua rekannya Franck Ribery dan Samir Nasri. Jika Nasri dan Ribery cenderung mobile dan saling bertukar posisi di kiri dan kanan, maka Malouda cenderung statis di sisi kiri. Hal ini terlihat dari perbandingan heat map dibawah.

Babak kedua berjalan tidak jauh berbeda dengan babak pertama. Perubahan terjadi ketika Inggris mencoba sedikit keluar dari tekanan dengan sesekali melakukan inisiatif serangan. Prancis sendiri melakukan hal sebaliknya, menyadari serangan balik Inggris yang berbahaya Laurent Blanc nampaknya menginstruksikan gelandang serangnya ikut turun ke bawah membantu pertahanan. Franck Ribery dan Samir Nasri beberapa kali turun jauh ke belakang membantu pertahanan.

Pergantian Pemain

Kedua pelatih melakukan pergantian pemain di babak kedua. Di kubu Inggris Jordan Henderson menggantikan Scott Parker dan Jermaine Defoe masuk menggantikan Oxlade-Chamberlain.  Henderson lebih difungsikan untuk memberi darah segar di lini tengah Inggris dalam bertarung menghadapi gempuran Prancis. Jermaine Defoe yang masuk menggantikan Oxlade-Chamberlain menjadikan Danny Wellbeck berperan sebagai supporting striker dan Defoe sebagai ujung tombak. Dengan memasukkan Defoe yang memiliki kecepatan, Roy Hodgson nampaknya ingin mengeksplotasi fisik dan konsentrasi bek-bek Prancis yang mulai menurun. Hal ini diperkuat dengan pergantian ketiga yang dilakukan oleh Roy Hodgson, Theo Walcott yang gemar mengobrak-abrik pertahanan lawan dengan kecepatannya.

Di kubu Prancis sendiri Laurent Blanc berusaha lebih menyerang dengan memasukkan Hatem Ben Arfa dan Marvin Martin menggantikan Yohan Cabaye dan Florent Malouda. Masuknya kedua pemain tersebut menjadikan Prancis bergeser ke formasi 4-1-4-1. Sangat disayangkan mengapa pergantian ini baru dilakukan di menit ke 85, ketika pertandingan hasmpir selesai. Terutama untuk Florent Malouda yang gagal menunjukkan permainan maksimal pada pertandingan ini. Akan lebih bijak seandainya Blanc memasukkan Hatem Ben Arfa lebih cepat.

Kesimpulan

Jalannya pertandingan seperti layaknya pertandingan lain jika salah satu tim bermain dengan strategi ‘parkir bus’. Ball posession yang timpang dan minim clear cut chance. Inggris sebagaimana Italia pada pertandingan sebelumnya, menunujukkan bagaimana menumpuk gelandang pekerja keras dapat meredam permainan posession football. Prancis seharusnya bisa mengubah permainan dengan melakukan pergantian pemain lebih cepat. Pergantian pemain lebih cepat memberi waktu kepada pemain yang masuk untuk beradaptasi.

*gambar dicomot dari : soccernet.espn.go.com dan whoscored.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: