Der Ganz Grosse Traum: Refleksi Semangat Sepak Bola

Jerman adalah raksasa sepak bola. Timnas Jerman selalu menjadi unggulan dalam setiap turnamen yang diikuti. Bundesliga kini menjadi kiblat model bisnis dan pembinaan pemain usia muda. Tak hanya dalam aspek olahraga, dalam hal bisnis pun dua produsen apparel asal Jerman Adidas dan Puma menjadi lambang superioritas Jerman di ranah sepak bola.

Namun siapa sangka awal kelahiran sepak bola di negeri ras arya ini menemui banyak resistensi. Sepak bola dianggap olahraga yang menumbuhkan sifat barbar di kalangan anak muda Jerman. Sepak bola dituding sebagai “English disease”.

DGGT_Schulmaterial_01_Layout 1

Gambaran ini ditampilkan sutradara Sebastian Grobler dalam film Der Ganz Grosse Traum (2011). Film ini berkisah bagaimana perkenalan rakyat Jerman dengan sepak bola. Dengan mengambil setting kota Braunschweig tahun 1874 film ini berkisah tentang  suka duka Konrad Koch, orang pertama yang memperkenalkan sepak bola ke Jerman.

Der Ganz Grosse Traum diambil dari kisah nyata masuknya sepak bola ke Jerman. Alkisah seorang guru bahasa Inggris di sekolah menengah Martino-Katharineum di kota Braunschweig mencoba menggunakan metode baru dalam pembelajarannya. Sang guru bernama Konrad Koch (Daniel Bruehl) menggunakan sepak bola sebagai sarana pembelajaran.

Pada awalnya murid-murid Koch heran dengan metode barunya. Namun pelan tapi pasti para murid menikmati metode pembelajaran baru tersebut. Bagi Koch sepak bola tak hanya membantu murid belajar bahasa Inggris, sepak bola juga merupakan media pembentukan karakter bagi siswanya.

Dalam mengaplikasikan metode pembelajarannya, Koch mendapat banyak pertentangan. Pihak sekolah menjadi “musuh” utama Koch. Metodenya dianggap barbarik dan tidak sesuai dengan budaya Jerman. Undeutsch. Terlebih sepak bola yang menjadi metode pengajaran Koch berasal dari Inggris.

Melalui kisah Konrad Koch sutradara Sebastian Grobler berhasil menggambarkan sifat konservatisme, disiplin dan semangat uebermensch Jerman. Para pengajar di Martino-Katharineum digambarkan sebagai pengajar berdisiplin tinggi yang tak segan memberi sanksi keras kepada siswa yang dinilai indisipliner. Materi pembelajaran yang cenderung provokatif dan chauvinistik menjadi simbol semangat uebermensch bangsa Jerman di era Otto von Bismarck.

Sifat konservatif dan feodalisme Jerman pra Perang Dunia digambarkan melalui keluarga Hartung. Sang ayah Richard Hartung adalah sosok yang teramat feodal. Felix Hartung, sang anak menjadi kaki tangan Richard dalam menegakkan feodalisme di sekolah. Richard jugalah penentang utama metode pembelajaran Koch.

Selain penggambaran semangat Jerman. Der Ganz Grosse Traum menjadi refleksi semangat sepak bola. Fair play dan egaliter. Inilah yang ditanamkan Koch kepada murid-muridnya melalui sepak bola.

Dalam sebuah adegan Koch memarahi murid-muridnya yang berlaku tidak sopan kepada guru olah raga dan serdadu Jerman. Koch mengingatkan mereka akan arti fair play. Fair Play adalah soal memperlakukan orang lain dengan layak, menaruh respek kepada lawan.

Semangat egaliter diajarkan Koch dengan mengajak murid-muridnya bermain sepak bola tanpa membedakan status social. Melalui sepak bola Koch membangkitkan semangat Joos Bornstedt, salah satu muridnya yang berasal dari kalangan proletar dan selalu menjadi sasaran bullying. Melalui sepak bola Koch berhasil membuat si kaya Felix Hartung menerima Joos Bornstedt sebagai kawan.

Momen penting refleksi semangat egaliter ini terlihat di bagian akhir film saat murid-murid Koch bertanding melawan kesebelasan tamu dari Inggris. Joos Bornstedt yang bertubuh mungil dan lincah membawa bola melewati pemain lawan. Ia lantas mengirim umpan silang yang diselesaikan dengan sundulan kepala Felix Hartung. Keduanya lantas bersama-sama merayakan gol. Refleksi bagaimana egaliternya sepak bola antara si kaya dan si miskin. Si kecil dan si besar.

Sebagai film non-dokumenter tentu tak semua yang digambarkan dalam film adalah 100% akurat. Dalam film Konrad Koch adalah sosok yang anti-konservatisme. Namun dalam sejarah, semangat reformasi Koch hanya dalam ranah olah raga. Ia bahkan dikenal sebagai sosok patriotik dan cenderung konservatif.

Jika melihat bagaimana resistensi terhadap sepak bola di film ini rasanya sulit membayangkan bahwa hal itu (pernah) terjadi di Jerman. Negeri yang dikenal dengan fanatisme supporter dan atmosfer stadionnya yang luar biasa.

Der Ganz Grosse Traum memang bertema sejarah. Namun apa yang saya dapatkan dari film ini lebih dari catatan sejarah. Bagi saya, film ini adalah refleksi nilai-nilai luhur bangsa Jerman yang membuat mereka menjadi bangsa yang unggul. Disiplin, etos kerja dan nasionalisme tinggi.

Tak hanya itu, film ini juga mengingatkan saya akan semangat sesungguhnya dari sepak bola. Kita sering mengidentikkan sepak bola dengan prestasi dan pengkotak-kotakan klub. Namun Der Ganz Grosse Traum mengingatkan saya bahwa sepak bola sesungguhnya adalah soal fair play,kerjasama dan kesetaraan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: