Tantangan berat Leitner

Sempat digadang-gadang sebagai calon bintang masa depan Jerman kiprah gelandang serang Moritz Leitner semakin jauh dari mengkilap. Sempat bersinar bersama TSV 1860, nama Leitner kini kalah mentereng dibanding gelandang muda lain macam pemain Mainz Johannes Geis atau duo Schalke Max Meyer dan Julian Draxler.
Kepindahan Leitner ke Borussia Dortmund pada 2011 bisa dibilang menjadi awal meredupnya sinar Leitner. Di klub kuning hitam itu Leitner kesulitan menembus tim utama. Penampilan gemilang wonderkid Mario Goetze dan gelandang Jepang Shinji Kagawa membuatnya harus rela menghuni bangku cadangan.

leitner & goetze
Pelatih Dortmund kala itu Juergen Klopp sebetulnya sempat melihat potensi Leitner sebagai deep lying playmaker. Dalam beberapa pertandingan pelatih penggemar heavy metal itu memainkan Leitner lebih ke dalam. Sayangnya pemain Jerman U21 itu tak juga menunjukkan potensi besarnya. Kekurangannya dalam bertahan berulang kali terekspos saat bermain ke dalam.
Dua musim hanya menjadi pemain pelapis nampaknya tak mengurangi kepercayaan manajemen Dortmund akan potensi Leitner. Pemain yang dibeli dari TSV 1860 Muenchen ini justru disodori kontrak baru hingga 2017. Manajemen Dortmund bahkan meminjamkannya ke Vfb Stuttgart selama dua musim untuk memberinya kesempatan bermain di tim utama.
Sayangnya situasi di Stuttgart sedang tidak kondusif. Klub Swabia ini tengah terpuruk di papan bawah. Pelatih datang silih berganti. Leitner harus rela berganti-ganti posisi bermain. Kadang sebagai pengatur serangan, kadang sebagai pemain sayap dan tak jarang sebagai gelandang sentral. Selama dua musim bermain di Stuttgart Leitner hanya mencatat dua gold an empat assist dari total 44 penampilan. Jelas bukan statistik bagus untuk seorang gelandang berbakat.

diambil dari: uefa.com

Menurunnya penampilan Leitner juga terlihat di Euro U21 yang berlangsung pada Juni 2015. Pemain kelahiran Muenchen ini tak tampil maksimal di pertandingan pertama Jerman menghadapi Serbia. Pelatih Horst Hrubesch pun mengganti Leitner dengan gelandang Bayern Muenchen Joshua Kimmich.
Di tiga pertandingan selanjutnya Leitner hanya menjadi penonton. Kimmich yang dua tahun lebih muda dan belum pernah sekalipun bermain di 1. Bundesliga justru tampil lebih baik. Pemain yang musim lalu membela RB Leipzig ini mampu menjadi penggerak lini tengah Jerman bersama gelandang Liverpool Emre Can. Jelas ini pukulan bagi Leitner.
Musim 2015/2016 akan menjadi babak baru dalam perjalanan Leitner. Pada Maret 2015 Direktur olahraga Dortmund Michael Zorc menyatakan Leitner akan bermain di tim utama bersama gelandang muda lainnya Jonas Hofmann. Namun belum juga musim dimulai Leitner telah mendapat tantangan.
Gelandang Ilkay Gundogan yang sempat dikabarkan bakal hengkang justru memperpanjang kontraknya bersama Dortmund. Kepastian bertahannya Gundogan jelas membuat Leitner semakin sulit mendapat menit bermain. Terlebih Dortmund sudah kadung mendatangkan dua pemain tengah, Gonzalo Castro dari Bayer Leverkusen dan Julian Weigl -yang seperti halnya Leitner- dari TSV 1860 Muenchen. Belum lagi Leitner harus bersaing dengan Kagawa dan gelandang Armenia Henrikh Mkhitaryan jika ingin bermain di posisi nomor 10.
Menumpuknya pemain tengah Dortmund memang akan membuat Leitner kesulitan menembus tim inti, namun bisa jadi hal ini akan menjadi cambuk baginya untuk bekerja lebih keras. Di usia yang belum genap 23 tahun Leitner masih bisa berkembang jauh.

tuchel
Secercah harapan datang dari pelatih baru Dortmund Thomas Tuchel. Mantan pelatih Mainz ini piawai mengorbitkan pemain muda. Sebut saja gelandang Lewis Holtby, Johannes Geis serta Yunus Malli. Ketiganya berkembang pesat semasa ditangani Tuchel. Leitner tentu berharap tangan dingin pelatih berusia 41 tahun ini mampu meningkatkan kualitas permainannya.
Persaingan di lini tengah Dortmund memang ketat, namun bukan berarti Leitner tak punya masa depan di Signal Iduna Park. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah membuktikan diri di pra-musim. Dengan pra-musim yang baik, Leitner mungkin akan sering mengisi daftar starting line-up musim depan. Namun sebaliknya, jika ia tak mampu membuktikan diri kita bisa saja melihat pemegang 24 caps bagi Jerman U21 ini berganti klub sebelum ditutupnya jendela transfer.

Iklan

One Response to Tantangan berat Leitner

  1. didut says:

    bac aini jadi pengen nulis soal Milan hihi~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: